HIDUP OLEH IMAN ADALAH GAYA HIDUP/JALAN HIDUP/WAY OF LIFE (3)
GppsPalu – Setiap orang harus bersiap-siap menghadapi kegagalan karena kegagalan pasti dialami oleh setiap orang hanya bentuknya berbeda-beda, misalnya dalam pekerjaan, hanya saja kita tidak boleh berlarut-larut didalam kegagalan tersebut.
Bagaimana dalam hal iman?
Banyak orang percaya yang mengalami kegagalan dalam hal iman. Seharusnya ini tidak boleh terjadi tetapi mengapa bisa terjadi? Karena orang percaya tersebut tidak hidup oleh iman.
KEBERHASILAN ADALAH PROSES
Keberhasilan bukan tujuan hidup tetapi proses. Sebagai contoh Matematika keberhasilan: 23 + 7 = 30. Angka 30 adalah hasil, tetapi ia bisa ada karena ada proses penjumlahan 23 + 7. Banyak orang hanya menginginkan hasil, tetapi tidak menginginkan proses. Jika 23 + 7 dihilangkan maka 30 hanyalah angka. Dan jika itu adalah nomor urut maka berarti Nomor urut ke 30.
Bagaimana jika angkanya lebih besar? Misal kita ingin hasil keuntungan 5.000.000, tetapi jika tidak ada proses didepannya maka itu bukanlah hasil, melainkan nomor urut, maka kita seakan mengantri di nomor urut ke 5.000.000.
Kita harus memahami bahwa semakin besar hasil yang kita inginkan, semakin besar / semakin berat pula proses yang harus kita lalui. Jadi jangan hanya menginginkan hasil, jalani prosesnya maka kita akan sampai pada hasilnya.
Lalu mengapa banyak orang percaya yang hanya menginginkan hasil tanpa melalui proses? Sebagian besar karena kesalahan para hamba Tuhan yang tidak menjelaskan / membimbing jemaatnya.
Kesalahan yang umumnya terjadi adalah karena tidak mengerti mengenai anugerah Allah. Anugerah memang adalah pemberian, tetapi jika anugerah itu tidak diterima maka anugerah itu tidak bisa dinikmati. Atau anugerah itu diterima tetapi tidak dilakukan maka anugerah itu tidak bisa diperoleh hasilnya, dengan kata lain anugerah itu telah disia-siakan.
Dalam I Korintus 15:10 Paulus tidak menyia-nyiakan kasih karunia (anugerah) Allah ,” Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Lebih lanjut lagi Paulus berkata, “Aku bekerja lebih keras”. Dengan kata lain, Paulus melakukan apa yang menjadi bagiannya. Tuhan memberikan anugerah, Paulus mengerjakannya. Alkitab juga berkata di dalam ayat yang lain bahwa kita harus mengerjakan keselamatan kita!
Apa akibatnya jika kita pasif sebagai penerima anugerah? Apa akibatnya jika kita menyia-nyiakan anugerah Allah? “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” (I Kor 15:2). Jika orang percaya menyia-nyiakan anugerah Allah, maka ia sia-sia menjadi orang percaya.
Sama seperti matematika keberhasilan tadi. Jika orang percaya tidak mau prosesnya (ia menyia-nyiakan kasih karunia Allah), maka ia tidak akan mendapat hasilnya.
BAGIAN TUHAN
Kita akan belajar dari nasihat Rasul Petrus dalam 2 Petrus 1:3-
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” (ay 3)
Menjalani hidup yang saleh dan berkenan kepada Tuhan sebenarnya tidak sulit karena Tuhan sudah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup yang saleh.
“Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” (ay 4)
Luar biasa! Tuhan memberikan janji-janji yang besar dan dahsyat. Janji berbicara tentang hal-hal yang akan datang, tentang sesuatu yang akan diberikan kepada kita. Janji membuat kita bergairah, membangkitkan harapan-harapan baru, dan hidup kita dituntun pada janji itu. Dalam kehidupan manusia, yang menerima janji lebih tajam ingatannya dari yang memberi janji. Terkadang sang pemberi janji bisa lupa akan janjinya, itulah manusia. Tetapi janji Tuhan begitu luar biasa karena janji itu akan menghasilkan kodrat ilahi dalam diri orang percaya, sehingga orang percaya memiliki hidup yang berkenan di hadapan Tuhan dan manusia. Ia luput dari hawa nafsu duniawi karena ada janji Tuhan yang besar.
Paulus berkata bahwa ia telah tersalib bagi dunia dan dunia telah tersalib baginya. Ada saatnya dalam kehidupan dimana hawa nafsu merajalela baik dalam saat-saat tertentu secara lahiriah, maupun karena hawa nafsu duniawi. Sebagai orang percaya, memang kita masih hidup di dunia tetapi tidak boleh lagi dikuasai oleh hawa nafsu dunia.
BAGIAN KITA YANG HARUS KITA KERJAKAN
Lalu apa yang menjadi bagian kita?
“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu….” (ay 5)
Bagian kita adalah berusaha sungguh-sungguh untuk hidup oleh iman. Hidup oleh iman bukan hanya sebuah pujian/nyanyian, bukan hanya sekedar doa yang dipanjatkan dan dijawab, bukan hanya sekedar bentuk-bentuk kegiatan ibadah dan bentuk-bentuk pelayanan, bukan hanya sebuah kesaksian diatas mimbar, tetapi gaya hidup yang riil dalam kehidupan sehari-hari supaya Kristus dengan nyata dimuliakan di dunia, bukan di akherat!
Kegagalan orang percaya hidup oleh iman karena yang ditekankan iman hanya sekedar doa, iman hanya sekedar bentuk ibadah dan pelayanan, padahal hidup oleh iman adalah menyatakan dan mengaplikasikan iman dalam hidup sehari Hari. Jika tidak, kita gagal menjadi garam dan terang. Tidak heran orang Kristen di negeri ini tidak dihargai, karena jika garam menjadi tawar, tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang.
Saat ini lagi marak teologi Kerajaan Allah. Kita tidak perlu ikut-ikutan memakai istilah-istilah yang populer, cukup istilah sederhana Hidup Oleh Iman, karena inilah isinya Kerajaan Allah yaitu setiap orang percaya (anak-anak Allah) menyatakan imannya dalam hidup sehari-hari.
Sebagian lagi mempopulerkan hidup oleh iman dengan doa-doa klaim dan disemarakkan dengan atribut-atribut seperti bendera dan lain sebagainya. Mengapa ada orang percaya harus mengklaim sampai seperti itu? Karena mereka tidak memahami hidup oleh iman.
BUKTI HIDUP OLEH IMAN ADALAH MELALUI UJIAN DALAM HIDUP SEHARI-HARI
2 Pet 1:5-7 memuat daftar hal-hal apa saja yang harus ditambahkan pada iman kita yaitu Kebajikan, Pengetahuan, Penguasaan Diri, Ketekunan, Kesalehan, Kasih akan Saudara, dan Kasih akan Semua Orang. Semua hal-hal ini ditambahkan dalam iman kita melalui proses yang dialami melalui berbagai realita hidup, sehingga hasil dari semuanya itu adalah hidup oleh iman.
1. Kebajikan. Kapan seseorang disebut memiliki kebajikan? Jika ia sudah teruji dalam hal kebajikan. Banyak orang melakukan kebajikan tetapi bukan dari kasih.
2. Pengetahuan. Kapan kita dikatakan memiliki pengetahuan? Jika kita sudah teruji. Alkitab berkata untuk melawan tipu muslihat iblis, kita harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Bayangkan, hanya untuk melawan tipu muslihat iblis, kita harus mengenakan selengkap senjata Allah. Tetapi sayangnya banyak terjadi orang percaya terkena tipu muslihat iblis. Jika orang percaya punya pengetahuan maka ia tidak akan mudah kena tipu muslihat iblis.
3. Penguasaan diri. Kapan seseorang dikatakan mempunyai penguasaan diri? Saat teruji dalam realita hidup sehari-hari. Kapan penguasaan diri dibutuhkan? Ketika dalam keadaan yang tegang. Saat beribadah, semua orang terlihat sabar. Penguasaan diri baru teruji setelah melalui realita hidup.
4. Ketekunan. Bagaimana dengan ketekunan? Ketekunan berbeda dengan kerajinan. Banyak pelajar yang rajin belajar hanya saat mendekati ujian. Tetapi setelah selesai ujian, ia tidak rajin belajar. Kerajinan hanya sesaat tetapi ketekunan itu kontinyu.
5. Kesalehan. Bagaimana dengan kesalehan? Kita bertanya bagaimana mungkin orang yang beriman tidak memiliki kesalehan? Karena tidak hidup oleh iman. Kita akan memiliki kesalehan jika hidup oleh iman.
6. Kasih akan saudara dan kasih akan semua orang. Kita harus memulainya dari saudara. Jika kasih akan saudara seiman dan saudara kandung saja tidak bisa kita lakukan, maka kasih akan semua orang hanyalah peragaan dan pameran saja (dibuat-buat)
HASIL HIDUP OLEH IMAN
Apa hasilnya jika kita melakukan semuanya itu (hidup oleh iman)?
“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (ay 8)
Hasilnya adalah kita dibuat giat dan berhasil dalam pengenalan akan Tuhan. Jadi kegiatan-kegiatan rohani itu menjadi hasil dari hidup oleh iman, bukanlah sesuatu yang dibuat-buat.
Tetapi apa akibatnya jika seorang percaya tidak melakukan semuanya itu?
“Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.” (ay 9)
Akibatnya ia menjadi buta dan picik. Ini berbahaya sekali. Buta berarti tidak melihat apa-apa dan tidak bisa berjalan sendiri. Picik adalah orang yang melakukan segala sesuatu menurut pikirannya sendiri sekalipun sudah dijelaskan / dinasihati. Keadaan ini akan menjadi kesempatan iblis untuk menggarap orang tersebut.
Tuhan tidak pernah menyusahkan kita dengan hidup oleh iman, sebaliknya Tuhan mau kita hidup oleh iman sehingga kita bisa menikmati hasilnya.
Written by Pdt. DR. R. F. Martino









