MEMAHAMI DAN MENGHAYATI HIDUP OLEH IMAN #2
GpsPalu – “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”. II Korintus 5:17
Pendahuluan
Awal perjalanan hidup kita sebagai orang percaya dalam hidup oleh iman dimulai semenjak kita menjadi ciptaan baru (lahir baru). Hal ini sudah kita pelajari pada minggu lalu.
Kita tidak hanya memahami tetapi menghayati (hayat=hidup). Memahami dan menghayati adalah kesatuan yang harus kita pahami. Semua ajaran Kristus yang kita anut nampak dalam keseharian kita, tidak hanya menjadi sebuah sebutan saja tetapi nampak secara riil dalam hidup sehari-hari. Kebaktian, doa, puasa, dan kegiatan rohani yang lainnya adalah hal yang mutlak, akan tetapi aplikasinya juga harus nyata dalam hidup sehari-hari.
Menjalani Hidup Baru
Kebanyakan orang Kristen hanya memperbanyak kegiatan ritual (kebaktian, puasa, doa, dll) tapi tidak mempersiapkan hidup oleh iman, sehingga penilaian hanya dilihat dari aktifitasnya saja. Padahal seorang yang bertumbuh dalam iman pastilah ia akan aktif juga dalam kegiatan rohani. Tapi sebaliknya, meski dia sangat aktif dalam kegiatan rohani belum tentu imannya bertumbuh. Orang yang bertumbuh imannya tidak akan pernah tinggal diam untuk melakukan kegiatan-kegiatan rohani.
Banyak gereja Tuhan yang hanya memberitakan Injil dan membuat orang tersebut menjadi lahir baru tetapi tidak menjadikannya pribadi-pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan iman. Gereja Tuhan hanya mengurus urusan akhirat saja, padahal ketika jiwa baru itu sudah dibimbing lahir baru, dia masih akan terus menjalani hidup barunya dengan segala pergumulan-pergumalan hidup. Mempersiapkan orang percaya untuk menjalani hidupnya, sama pentingnya menginjili orang untuk selamat, tidak masuk neraka tapi masuk Surga.
Semua orang sangat riskan mengalami kejatuhan total, itu sebabnya ketika kita tidak menjalani hidup baru, maka yang akan kita lakukan adalah melanjutkan hidup yang lama/cara-cara lama kita, padahal kita sudah menjadi ciptaan yang baru. Ketika kita tidak melakukan Firman yang kita lakukan adalah hal lain yang bertentangan dengan Firman.
Kita menemukan orang-orang Kristen yang hanya sebutan beriman tetapi tidak menampakkan Kristus yang dia miliki dalam kehidupannya. Dia tidak bisa menjadi garam dan terang bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
Kapan dia memiliki iman? Yaitu ketika ia berdoa, ketika ia terlibat dalam kegiatan rohani. Hal ini keliru. Semua kegiatan rohani itu adalah mutlak tapi semuanya itu tidak menjamin bahwa ia hidup oleh iman. Kegiatan doa dan kegiatan rohani lainnya hanya berkisar beberapa saat saja (misalnya kebaktian yang berlangsung hanya sekitar 2 jam saja), tetapi setelah itu kita akan kembali ke kehidupan sehari-hari.
Terlatih Menghadapi Ujian
Ketika kita sudah terlatih dalam hidup oleh iman, maka kita akan cakap ketika menghadapi ujian iman. Oleh sebab itulah kita dididik untuk memberitakan Injil dan membawa mereka untuk lahir baru, tetapi yang lebih penting adalah kita harus menyiapkan petobat baru itu untuk menjalani hidup barunya dengan jalan hidup oleh iman.
Kita tidak hanya menawarkan kelegaan yang Tuhan berikan ketika orang tersebut ada di dalam Kristus. Tetapi kita juga harus menuntun petobat baru tersebut menggunakan iman percayanya menghadapi pergumulan hidup.
“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu”. I Petrus 4:12
Jika kita berbicara mengenai konteks kasih Allah, ayat di atas kita anggap bertolak belakang. Karena waktu kita menginjili orang, yang kita katakan adalah meski dosa kita merah seperti kirmizi maka akan menjadi putih seperti salju (Yesaya 1:18), tetapi dalam ayat di atas Tuhan berkata bahwa akan ada siksaan yang akan datang kepada kita. Apakah kita siap menghadapinya? Setiap kita sebagai orang percaya pasti akan mengalami ujian iman. Ini pasti akan dialami oleh setiap orang percaya.
“Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu”. I Petrus 4:13-14
Disinilah kebanyakan orang Kristen gagal dalam menjalani hidup kekristenannya bahkan gugur imannya, karena tidak memahami dan menghayati hidup kekristenannya. Kita harus belajar menjadi pribadi yang tangguh agar sesuatu yang “luar biasa” itu bisa kita anggap menjadi sesuatu yang “biasa”, karena kita memang sudah terbiasa menghadapinya.
“Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu”. I Petrus 4:15-16
Bagaimana Mempersiapkan Diri Menghadapi Hal-hal yang “Luar Biasa”?
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” II Korintus 13:5
Dalam menjalani hidup baru, ada saat-saat tertentu dimana Tuhan menetapkan kita untuk menghadapi ujian iman. Ujian iman adalah ujian ketaatan kita kepada mengenai kebenaran Firman. Apakah kita taat atau tidak? Tuhan menetapkan kita untuk menguji diri sendiri.
Kita harus tahu bahwa setiap realita hidup, apapun bentuknya, besar atau kecil, itu adalah tantangan iman. Jika kita hanya menganggapnya sebagai pergumulan hidup, maka kita akan menghalalkan semua cara untuk menyelesaikannya, kita akan menggunakan cara kita sendiri. Tetap jika kita menjadikannya sebuah tantangan iman, maka semua harus dihadapi dan diselesaikan dengan cara Tuhan melalui kebenaran Firman.
Jika kita sudah memahami dan menghayatinya, bahawa apapun bentuk realita hidup adalah tantangan iman, maka hal itu akan terjadi secara alamiah kita akan menghapinya dengan iman.
Hidup oleh iman bukan berarti semua keberadaan kita dimatikan. Hidup oleh iman adalah hidup yang sesuai dengan Firman. Jadi semua realita hidup yang kita jalani akan kita hadapi sesuai dengan cara Tuhan/Kebenaran Firman. Firman Allah akan menjadi pegangan kita.
Setiap hari penuh dengan realita hidup kita, jika kita sudah terlatih maka kita akan terbiasa dengan setiap ujian iman. Orang yang takut gagal akan tidak akan pernah memulai sesuatu. Kita harus menghadapinya.
Ketahanan iman akan membuat kita lulus, jika kita tidak lulus maka ada ujian susulan. Bagaimana agar kita bisa lulus di setiap ujian? Kita harus melatih diri untuk semakin tangguh. Kita tidak tahu apa bentuk ujian dari Tuhan, jadi kita harus siap setiap saat. Masing-masing Tuhan menguji apa yang masih harus diperbaiki dalam diri kita, sampai buah-buah Roh Kudus terbentuk dalam diri kita.
Pdt. R.F. Martino









