MEMILIKI PERNYATAAN IMAN
GppsPalu – Matius 16:13-20 “Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.”
1 Korintus 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Milikilah pernyataan iman! Ini yang Tuhan kehendaki dimiliki oleh setiap orang percaya, yaitu setiap orang percaya memiliki pernyataan iman.
I. PERNYATAAN IMAN PAULUS
Dari I Korintus 15, kita mulai dari apa yang menjadi pernyataan Paulus secara pribadi sebagai hamba Allah, akan tetapi juga sebagai manusia lahiriah. Rasul Paulus berkata bahwa semua adalah kasih karunia. Kita ada karena kasih karunia. Namun demikian, Tuhan yang bisa menilai keberadaan kita dengan jelas, apakah benar setelah Saudara dan saya lahir baru secara pribadi, kasih karunia Allah telah kita miliki, kita alami secara pribadi? Jelasnya, Saudara dan saya sudah menjadi orang percaya, disebut anak Tuhan, ini semua karena kasih karunia atau anugrah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Hal ini tidak dapat disangkal, karena oleh iman di dalam Yesus Kristus, inilah yang mengubah hidup kita. Pertanyaannya, apakah kita yang tadinya manusia yang harus binasa, oleh karena kasih karunia Allah disucikan dengan darah Yesus dan diubahkan menjadi anak Allah sudah meresponi kasih karunia itu seperti Paulus sudah meresponinya? Paulus berkata dalam 1 Korintus 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia”.
Sama seperti Paulus yang sudah mengalami itu, kita pun demikian, apakah benar sejak Saudara menjadi orang percaya saudara menikmati kenikmatan dari kasih karunia? Lebih dari pada itu, adakah kuasa dari kasih karunia kita nikmati sebagai orang percaya? Mari renungkan!
Jadi, kasih karunia yang menyertai kita dalam menjalani hidup, harus dapat kita nikmati dalam hidup kita, sehingga kasih karunia-Nya tidak sia-sia. Jika kasih karunia kita nikmati sebagai orang percaya, itu akan nampak dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kasih karunia itu bekerja dalam hidup kita, maka ada suatu pernyataan iman yang dapat disampaikan dinyatakan kepada siapapun dan dimanapun. Pernyataan iman ini tidak dapat dinilai dari banyaknya orang itu memegang jenis-jenis pelayanan digereja. Mari kita uji keberadaan kita masing-masing, sudahkah kita nikmati kasih karunia sebagai orang percaya sehingga menyatakan suatu penyataan iman?
Mari kita belajar dari kisah Rasul Paulus. Siapakah Rasul Paulus itu? Rasul Paulus menyatakan dalam Kisah Para Rasul 22:19-20 “Jawabku: “Tuhan, mereka tahu, bahwa akulah yang pergi dari rumah ibadat yang satu kerumah ibadat yang lain dan yang memasukkan mereka yang percaya kepadaMu ke dalam penjara dan menyesah mereka. Dan ketika darah Stefanus, saksiMu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya.” Paulus adalah orang yang banyak melakukan kejahatan. Bukan hanya dosa pribadi, namun dia juga menganiaya orang-orang percaya. Seseorang yang seperti ini, setelah bertobat, menjadi hamba Allah bahkan bisa dipakai Tuhan menjadi rasul. Mari kita kembalikan dalam hidup kita. Apa yang kita pahami dan ada hubungan apa dengan pernyataan iman?
Tuhan tahu persis apapun keberadaan Saudara yang telah menjadi orang percaya. Kita yang sudah menjadi percaya, kita tidak seperti orang jahat yang ada di kayu salib, yang setelah percaya langsung meninggalkan dunia. Kita berbeda, hidup kita tidak langsung berakhir, kita masih menjalani hidup kita. Dalam menjalani kehidupan kita, Tuhan sudah menetapkan, orang percaya harus hidup oleh iman. Tuhan tahu persis kalau kita tidak hidup dengan iman, kita akan hidup dengan keinginan daging kita dan keinginan daging tidak dapat melakukan kehendak Allah. Sekarang pertanyaannya, sejauh mana kita dapat memahami apa itu iman? Kita tidak akan memahami apa itu iman, sampai iman itu dapat kita alami secara pribadi. Pengalaman iman bukan hanya sekedar saat kita pelayanan, saat menerima jawaban doa, tetapi benar-benar teraplikasi dalam hidup kita, nampak dan nyata dalam hidup kita.
Bagi sebagian besar orang percaya, firman bukanlah kesukaan, bagaimana bisa terjadi? Kita hidup oleh iman. Tapi bagaimana bisa kita hidup oleh iman bila firman tidak menjadi kesukaan kita? Sedangkan iman datang dari mendengar firman. Sebagian besar orang percaya merasa sangat tertekan dengan hidupnya sebagai orang percaya. Imannya adalah kegiatan agamawi yang tidak bermanfaat. Apakah Saudara datang beribadah saat ini, karena ini hari minggu atau merupakan suatu keharusan karena jadwal pelayanan? Saudara tertekan atau ibadah adalah kesukaan Saudara? Apakah Saudara malas berdoa tetapi Saudara tetap berdoa karena takut Tuhan marah, dan pada akhirnya saudara tidak melakukan dengan sungguh? Apakah saudara pergi ke gereja setiap hari minggu karena kalau tidak pergi ibadah takut Tuhan marah dan akhirnya harus pergi tetapi terlambat, dan menjadi rutinitas? Tidak melakukan, merasa berdosa, tetapi jika melakukan, kita tertekan. Apakah Tuhan ingin kita hidup seperti ini? Tidak!
Saudara, kasih karunia ini harus kita nikmati. Kasih karunia yang kita terima ini adalah kasih karunia Allah. kita dipindahkan dari neraka ke surga itu karena kasih karunia-Nya! Kenapa justru kita merasa tertekan? Inilah keinginan daging yang membuat kita seperti itu. Tidak berdoa, takut. Berdoa, tetapi malas. Makanya datang doa malam tersiksa rasanya. Ini tidak boleh terjadi. Kenapa bisa seperti itu? Karena kita tidak memiliki pernyataan iman. Pernyataan iman bersifat permanen tidak dapat digoyahkan dan ditumbangkan. Karena setiap saat Iblis dari berbagai penjuru berusaha menumbangkan kita.
II. PERNYATAAN IMAN PETRUS
Kita akan menyelidiki kasus berikutnya dari kisah Petrus. Murid-murid mendengar cakap orang tentang Yesus dan Yesus bertanya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Alangkah baiknya, pertanyaan ini kembali kepada kita. Menurut Saudara setelah jadi orang percaya, sejauh mana pengenalan Saudara tetang Kristus? Karena untuk mencapai tingkat kedewasaan rohani yang penuh kita harus punya pengenalan yang benar akan Anak Allah. Di akhir zaman ini semakin banyak bidat (pengajaran sesat) kekristenan disana sini. Ketika saudara membuka internet dan artikel Kristen, sebaiknya saudara harus punya dasar firman terlebih dahulu. Mengapa? Karena ketika kita belum sampai secara penuh memiliki atau belum cukup mengenal Anak Allah, lalu kita membaca artikel berupa bidat itu, bahaya! Sangat bersyukur jika di gereja, saudara mendapat sekolah Alkitab yang namanya pemuridan atau katekisasi. Kalau kita tidak belajar Firman Tuhan, sangat berbahaya! Ada banyak orang yang tidak siap tentang ini. Gereja Tuhan yang di dalamnya ditanamkan dasar firman akan memiliki jemaat dengan fondasi yang kuat.
Olehnya, sebelum kita membuat pernyataan iman atau suatu prinsip iman, kita harus mengetahui kebenaran firman Tuhan. Pada saat Yesus bertanya pada murid-murid, mereka menjawab, “ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.”Hanya sampai situ. Terlalu banyak anak Tuhan yang pengetahuannya juga hanya sampai disitu. Jika kita tidak memiliki dasar firman, ketika satu jam saja bertemu dengan orang yang punya prinsip iman pada kepercayaannya, kita sudah mudah terpengaruh.
Saksi Yehova (salah satu bidat), mereka bukan orang biasa. Mungkin mereka jemaat biasa tetapi mereka punya pengetahuan firman yang sudah luar biasa karena sudah dibekali, mereka militan dalam memenangkan jiwa dan sasarannya adalah orang Kristen, bagaimana caranya agar orang Kristen dapat “di yehova-kan”. Kita tidak dapat melawan jika kita tidak memiliki dasar firman. Jika Saudara mengatakan tidak ada waktu pada mereka, Saudara bahkan ditunggu sampai Saudara selesai melakukan aktivitas saudara, lalu mereka “injili”.
Mari kita lanjut, lalu bertanyalah Yesus pada murid-murid, “tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Matius 16:16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Luar biasa pernyataan iman Petrus. Ia sudah duluan melakukan pernyataan iman sebelum murid-murid lain bersuara. Sama saat dia berjalan di atas air. Simon petrus membuat pernyataan iman dan menantang Tuhan Yesus mengajaknya berjalan di atas air.
III. HASIL MEMILIKI PERNYATAAN IMAN
Apa hasil dari penyataan iman ini? Jika kita pahami kita akan berusaha menjadikan pernyataan iman sebagai gaya hidup kita.
PERTAMA, Matius 16:17 Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
Setiap kata Yesus ,memiliki makna. Kata berbahagialah disini bukan hanya kata kalimat pembuka.
Tahukah saudara bila kita punya pernyataan iman, Ada kenikmatan sebagai orang percaya yang memiliki beban hidup, mengapa? Yesus berkata “Berbahagialah..” tetapi jika kita belum punya pernyataan iman dan belum menjadikan gaya hidup, hal-hal rohani dan firman Tuhan sering menjadi beban tekanan dan penghalang kebebasan kita, menjadi orang percaya yang bukannya terlepas tapi diikat oleh hal-hal hukum agamawi yang menjadi tradisi.
Tapi biarlah Roh Kudus yang memimpin, supaya kita memahami dan mengerti. Mari kita pahami betapa nikmat jadi orang percaya dan melakukan firman. Jika bukan karna perkataan firman sudah lama kita karam dalam menjalani hidup. Jika saudara bisa nikmati kasih karunia Tuhan, luar biasa! Saat kita lakukan suatu ketaatan, senang bukan? mengapa? Karena kita sudah menyenangkan hati Tuhan. Bukan ketakutan yang kita rasakan. Pelajaran yang dapat kita ambil:
Jadi saat kita memiliki pernyataan iman, hasil yang pertama adalah kita bebas dari tekanan. Apapun keberanan firman, kita bebas karna kita senang melakukan firman Tuhan.
KEDUA, Matius 16:18 ”Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Kita menjadi pribadi yang teguh, kokoh, dan tak mudah tergoyahkan. Jika kita memiliki pernyataan iman maka kita tidak mudah kompromi kepada standar dunia dalam menghadapi segala sesuatu.
KETIGA, Matius 16:19 “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
Apa yang kita peroleh dari melakukan pernyataan iman kita? Tuhan menetapkan visi, kehendak dan rencana Allah, diberikan kepada orang percaya. Visi bagi semua orang percaya ada dalam Yeremia 29:11. Tapi orang percaya yang memiliki pernyataan iman dan melakukan peryataan iman itu dalam hidupnya Tuhan berkata,
a. ” Kuberikan kunci kerajaan sorga” Luar biasa! Jika kunci mobil saja diberikan orang kepada Saudara, saudara senang, apalagi kunci kerajaan sorga.
b. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Diberikan otoritas untuk melepaskan dan mengikat apa yang dibumi dan disorga
Inilah kebahagiaan yang dapat kita peroleh, kita tidak jadi orang biasa tetapi Tuhan melakukan pekerjaan yang besar dalam hidup kita. Semuanya itu dilakukan pada orang percaya yang memiliki pernyataan iman dan menjadikan pernyataan iman itu sebagai gaya hidup. Hal ini mutlak. Mereka tidak lagi sebagai orang-orang yang tidak berguna dihadapan Tuhan melainkan jadi pribadi yang Tuhan perlakukan sedemikian rupa. Pernyatan iman ini mutlak.
IV. PERNYATAAN IMAN HARUS NAMPAK DALAM HIDUP KITA SEHARI-HARI
Roma 10:9-10 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”
Apa yang ada dalam hati cuma Tuhan yang tau, manusia tidak ada mengetahuinya. Dari ayat ini kita memahami, kita beriman bukan hanya dari hati tapi harus ada yang keluar secara nyata dan dilihat, kita harus menyatakan pernyataan iman kita sebagai gaya hidup agar orang melihat kemuliaan Tuhan, apapun yang kita hadapi muliakan Tuhan dalam segala hal. Apa yang merupakan pernyataan iman tidak hanya sesaat, tetapi menjadi gaya hidup dalam sehari-hari. Pernyataan iman di dalam hati, Tuhan yang melihat. Namun perlu dinyatakan secara nyata agar orang lain dapat melihat.
V. PERNYATAAN IMAN AKAN DIUJI
Berikutnya, kita perlu menghargai kejujuran Alkitab. Matius 16:21 “Sejak waktu itu Ysus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam, kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Dikatakan “sejak waktu itu”, yaitu sejak Petrus membuat pernyataan iman, Yesus mulai menceritakan penderitaan yang akan dialami-Nya. Mengapa tidak dari dahulu Yesus menceritakannya? Bayangkan kalau kita sebagai anak, mendengarkan ayah kita akan dibunuh, apa yang akan kita lakukan? Tidak semua orang bisa menerima berita yang besar apalagi jika itu adalah masalah yang besar. Itu sebabnya semakin besar dan berani kita membuat pernyataan iman menunjukan kita sudah mampu menerima dengan cakap menanggung peristiwa, Tuhan akan hadirkan peristiwa untuk dapat menguji ketahanan iman yang kita miliki. Sejak kita membuat peryataan iman, artinya kita sudah siap untuk menghadapi peristiwa yang hadir dengan kecakapan iman.
Bagaimana respon murid-murid terhadap penderitaan yang akan Yesus alami, pada Matius 16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya:” Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Apakah jawaban ini benar secara etika? Kita pun pasti akan mengatakan perkataan yang serupa saat ada orang lain yang menceritakan masalah yang akan dia hadapi.
Sebuah peristiwa nyata, ada sebuah keluarga mengalami krisis, usaha hancur, sehingga mau tidak mau rumahnya harus disita. Gembala yang mendengar pasti tidak tega, Gembala itu memberi penguatan dan sebagainya. Keluarga itu di ajak berdoa. Di pertahankan rumah itu dihadapan Tuhan, sambil memegang tiang pintu dan didoakan dengan sungguh-sungguh mohon belas kasihan Tuhan. Hal yang etis, dan hal yang etis ini hanya sebuah penghiburan kosong. Tidak lama kemudian, tukang sita rumah datang lengkap dengan alat-alat untuk mengusir keluarga itu.
Ini bukan masalah doa dijawab atau tidak. Pernyataan iman yang dijadikan gaya hidup itu jauh lebih baik daripada segala hal etis manapun. Itulah kejujuran Alkitab. Sebagai manusia lahiriah siapa yang tega liat gurunya dibunuh, kita akan melakukan bagaimana rupa agar dapat menghibur. Itulah kalimat etis. Lalu apa respon Yesus? Matius 16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus:”Enyahlah Iblis, Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikrkan manusia.” Petrus yang tadi dikatakan berbahagialah sekarang justru dibilang “iblis”. Kita harus berhati-hati terhadap terobosan iblis. Iblis bisa menerobos melalui jalur lahiriah. Segala yang etis tidak boleh mengorbankan pernyataan iman kita. Bayangkan, sedangkan Petrus seseorang yang memiliki pernyataan iman saja dapat diterobos iblis apalagi orang yang tidak memiliki pernyataan iman.
Bagaimana bisa pernyataan iman Petrus ini tercemar? Bahkan Pernyataan iman itu tercemar saat Petrus jatuh dalam dosa kemunafikan, seperti peristiwa yang terdapat dalam Galatia 2:11-17 Petrus yang awalnya bergabung dengan orang-orang tidak bersunat, akan tetapi kemudian pura-pura tidak mengenal mereka saat rombongan orang Yahudi datang. Inilah yang sering terjadi, kita tidak bisa membedakan nilai etis dan rohani. Kita harus hati-hati, jika tidak, kasih karunia itu akan menjadi sia-sia. Karena kita tidak punya prinsip iman. Harusnya kita memberi penolakan secara etis tanpa kompromi, bukan meniadakan Firman Tuhan demi kompromi dengan hal yang tidak benar.
Pdt. DR. R.F. Martino









