This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MEMULIAKAN ALLAH

GppsPalu – “Sebab segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36)

“Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata:

“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”” (Lukas 17:11-19)

Pandangan masyarakat tentang orang kusta pada zaman sekarang ini berbeda dengan pandangan masyarakat kepada orang kusta pada zaman Tuhan Yesus. Pada zaman Tuhan Yesus saat itu, kusta bukan hanya penyakit biasa tetapi juga akibat dari kutukan. Seorang penderita kusta zaman dulu harus menyingkir dan diasingkan.

Pada zaman Perjanjian Lama, Raja Uzia masuk ke Bait Allah dan mau melakukan tugas yang hanya boleh dilakukan oleh imam yaitu membakar ukupan. Imam-imam mengikutinya dari belakang kemudian melarangnya. Tetapi Raja Uzia marah dan seketika itu juga Raja Uzia terkena kusta. Pada zaman Perjanjian Lama mereka sudah tahu bahwa jika mereka kena kusta mereka harus menyingkir dan akan diasingkan. Dan agar orang tahu mereka kena kusta maka mereka harus berseru “Najis! Najis!” (2 Taw 26:16-23).

Yesus tahu bagaimana kondisi yang dialami 10 orang kusta ini. Karena itu Yesus menyembuhkan mereka sementara perjalanan mereka untuk menghadap para imam. Hanya 1 orang yang kembali memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Yesus, tetapi 9 orang lain yang juga telah disembuhkan tidak kembali pada Yesus.

“Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.”

Ini yang mengejutkan: ternyata orang yang kembali dan memuliakan Allah itu adalah orang Samaria, bukan orang Yahudi. Jika dalam zaman sekarang, “orang Samaria” adalah orang kafir – orang yang tidak mengenal Allah.

Kata “mulia” berarti “yang terbaik / yang berkualitas tinggi”. Ada sebutan “Logam mulia”, disebut demikian karena logam tersebut bukan logam biasa. Begitupun akhir-akhir ini di Palu marak dengan “batu mulia”, disebut demikian karena batu tersebut bukanlah batu biasa karena ada mistik di dalamnya misalnya penolak bala. Sayang sekali tidak sedikit orang Kristen yang memilikinya.

Kata “Mulia” juga berarti penghormatan tertinggi kepada seorang pribadi. Karena itu kita menemukan ada penyebutan: “Paduka Yang Mulia” untuk orang-orang yang sangat dihormati.

Sebagai orang percaya apakah kita sungguh-sungguh memuliakan Allah dalam hidup kita? Memuliakan Allah bukan hanya sebatas nyanyian, tetapi sikap hidup kita: bagaimana cara kita berbicara, bagaimana kita bertingkah laku, dsbnya.

Filipi 1:20, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.”

Dari perkataan rasul Paulus tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana cara memuliakan Allah:

I. ADA PASSION/GAIRAH/HASRAT/MOTIVASI AGAR TUHAN TIDAK DIPERMALUKAN

Passion Paulus dapat kita ketahui melalui perkataannya, “Sebab yang sangat kurindukan…”

Rasa malu dalam hidup kita ada banyak sekali. Rasa malu Paulus adalah rasa malu yang bernilai. Ini adalah rasa malu sebagai orang percaya. Paulus menjaga hidupnya dalam segala hal supaya hal itu tidak mendatangkan peristiwa memalukan dalam hidupnya – supaya Tuhan tidak dipermalukan.

Umumnya rasa malu pada masyarakat kita:

• Rasa malu yang keliru. Banyak orang yang salah menempatkan rasa malu. Mereka malu dalam hal yang seharusnya tidak perlu malu, tetapi mereka tidak malu dalam hal yang seharusnya mereka malu. Contohnya para koruptor yang tidak malu melakukan tindakan korupsi – padahal seharusnya dalam hal ini mereka merasa malu. Inilah orang-orang yang harga dirinya hanya sebatas/senilai uang yang dikorupsi atau diselewengkan. Persoalan yang melanda bangsa kita saat ini adalah budaya malu pada dosa mulai lenyap di bangsa ini.

• Rasa malu sebatas menjaga gengsi dan harga dirinya. Banyak orang tua yang membimbing anak-anaknya sejak kecil supaya tidak memalukan orang tuanya. Para orang tua berkata “jangan bikin malu papa” “jangan bikin malu mama”. Secara etika perkataan ini tidak salah tetapi secara Firman Tuhan kita tahu bahwa seharusnya hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Maka perkataan diatas yang sekilas sepertinya positif, iblis bisa membuatnya menjadi negatif. Mengapa? Karena didalamnya ada noda-noda kepujian diri. Rasa malu yang demikian hanyalah sebatas gengsi.

Banyak juga pendeta yang berkata kepada anaknya, “Jangan bikin malu, karena kamu anak pendeta”. Perkataan inilah yang menghancurkan banyak anak pendeta! Perkataan ini membuat anak-anak tertekan dan mengakibatkan segala kebaikan yang dia lakukan hanya sebatas untuk memamerkan bahwa ia anak pendeta.

II. MENGGANTI KEMULIAAN DIRI DENGAN KEMULIAAN KRISTUS

Lawan kata memalukan adalah memuliakan. Saat Paulus berkata bahwa ia tidak mau memperoleh malu, ia mengganti kemuliaan dirinya dengan kemuliaan Kristus.

“…Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku…”

Nyata berarti real dalam kehidupannya setiap hari. Inilah dasar yang benar yaitu KRISTUS YANG DIMULIAKAN. Jika prinsip ini digeser maka kita berpijak pada dasar yang salah.

Kita tidak layak menerima kemuliaan, hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Memang ada ayatnya bahwa Tuhan akan memuliakan umat-Nya tetapi itu Tuhan yang melakukan, bukan kita yang memuliakan diri. Tugas kita adalah memuliakan Tuhan dan jika kita memuliakan Dia Yang Maha Mulia berarti apa yang kita perbuat dan persembahkan kualitasnya harus yang termulia untuk Tuhan Yang Maha Mulia.

Bagaimana mengganti kemuliaan diri dengan kemuliaan Kristus?

a. Kolose 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Waktu saya kecil saya menyaksikan orang-orang yang mempersembahkan buah-buahan untuk berhalanya pasti buah-buahan yang mulus tak bercacat. Bagaimana dengan orang Kristen? Saya mengamati bahwa orang Kristen banyak yang “cincai” dan terbiasa dengan apa adanya. Di gereja ini kita ditanamkan untuk “Tidak terbiasa dengan yang seadanya karena kita melakukannya untuk Tuhan yang Maha Mulia”. Ketika kita melakukan seada-adanya berarti kita tidak menghormati / memuliakan Dia sebagai Allah. Apapun yang kita lakukan untuk Tuhan haruslah kualitas mulia. I Korintus 3 juga mengajar kita bahwa kita membangun diatas dasar dengan bahan yang bermacam-macam – ini berbicara tentang kualitas yang kita persembahkan kepada Tuhan, dan pada hari Tuhan, semua pekerjaan kita akan diuji dengan api.

b. Jangan setitikpun mengambil/mencuri kemuliaan Tuhan

Saya mengamati rahasia kejatuhan hamba-hamba Tuhan besar – peristiwanya bisa berbeda-beda tetapi penyebabnya satu yaitu memindahkan kemuliaan Allah kepada diri sendrii. Kejatuhan banyak orang percaya juga adalah dosa Lucifer yaitu dosa kesombongan, ketika kita mau mencoba mengambil kemuliaan Tuhan. Banyak orang yang tanpa ia sadari bersahabat dengan Lucifer. Dalam kitab Wahyu, ada teguran Tuhan yang keras kepada salah 1 jemaat dimana dikatakan di gereja mereka ada di Tahta Iblis.

Roma 1:21 “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.”

Lawan kata mulia adalah malu. Saat Tuhan mengambil kembali kemuliaan -Nya maka kita tahu apa yang terjadi dengan orang tersebut. Tuhan terkadang mengizinkan aib saat Tuhan mengambil kembali kemuliaan-Nya.

Kita harus waspada karena Iblis punya kemampuan untuk mengubah semua yang positif menjadi negatif. Ada keluarga yang luar biasa salehnya, mereka juga adalah tiang-tiang gereja sehingga kata orang lebih cocok keluarga ini menjadi hamba Tuhan fulltime. Tetapi segala kemuliaan itu menjadi kemuliaan diri. Bahkan kerohanian kita yang baik tidak boleh dibanggakan. Banyak orang yang takut diketahui kekurangan-kekurangannya untuk memperlihatkan bahwa dirinya sempurna dan baik. Ini banyak dialami hamba-hamba Tuhan. Ini yang membuat hamba-hamba Tuhan secara tidak langsung menjadi “Tuhan Allah kedua.” Dan saat Tuhan mengambil kembali kemuliaan-Nya orang akan mendapati bahwa ia benar benar tidak baik dan mencibirnya.

Jangan menjadi rohani/sabar supaya orang melihat kita rohani dan sabar, tetapi karena Yesus.

c. Milikilah cara hidup yang baik.

1 Petrus 2:12 “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”

Terkadang fitnah bisa datang pada hidup kita. Fitnah berarti orang mengatakan yang tidak benar tentang diri kita. Jika perbuatan kita baik, maka fitnah itu tidak mempan karena bukan keadaan yang sebenarnya. Dan pada akhirnya saat semuanya terbukti, mereka memuliakan Allah bukan memuliakan diri kita. Karena itu kalau kita difitnah ingatlah bahwa fitnah itu diperlukan untuk alat penguji kualitas diri. Karena fitnah adalah kebalikan dari fakta.

Paulus berkata, “Yang sangat kurindukan dan kuharapkan” ini berarti pergumulan, karena belum tercapai dan bergumul untuk menjaga diri agar tidak mempermalukan Tuhan. Biarlah kita pun seperti Paulus yang berkata,” dengan nyata Kristus dimuliakan baik oleh hidupku maupun oleh matiku”.

Pdt. DR. R. F. Martino