This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MENGIKAT IMAN DENGAN JANJI ALLAH (2)

Ibrani 6:13-17 13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, 14 kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” 15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. 17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,

Sumpah dilakukan ketika ada ketidakpercayaan antara kedua belah pihak. Tuhan sangat memahami manusia dalam kemanusiaannya baik secara psikis maupun iman dimana manusia sangat sulit untuk diyakinkan, sehingga Tuhan memakai salah satu cara yang bisa dipahami oleh manusia yaitu dengan bersumpah sehingga ketidakpercayaan tidak lagi menggerogoti umat-Nya karena itu adalah bagian dari dosa.

Setiap orang yang sudah mengucapkan sumpah maka ia sudah mengikat dirinya. Allah yang maha mulia, maha kuasa mengikat diri-Nya dengan sumpah hanya untuk membuat umat-Nya memiliki keyakinan akan janji-Nya, meskipun janji Allah sebenarnya tidak perlu dipersoalkan lag karena pasti akan ditepati, justru yangmenjadi persoalan adalah pribadi kita sebagai penerima janji Allah.

Ishak menerima dan menikmati janji Allah tidak dengan sendirinya. Ia mengikat imannya dengan janji Allah melalui ketaatan atas apa yang Tuhan perintahkan atas peristiwa yang sedang ia alami.

Sebagai orang percaya, Tuhan sudah menyediakan jawaban untuk setiap realita hidup yang kita hadapi. Ada jawaban Tuhan yang langsung diberikan dan ada yang tidak, tetapi isinya adalah janji Tuhan seperti yang diberikan kepada Ishak.

Jawaban Tuhan atas masalah kekeringan yang melanda tempat Ishak tinggal ialah perintah untuk ia tetap tinggal dan mengerjakan tanah itu. Untuk dapat memahami perintah atau pun janji Tuhan ini, dibutuhkan iman. Jawaban Tuhan yang bersifat janji masih belum nyata dan terlaksana tetapi butuh waktu, dan tidak tahu kapan akan digenapi.

Bentuk jawaban seperti ini, membutuhkan latihan kita untuk belajar mengikat iman kita dengan janji Allah. Jika tidak, maka kita tidak akan sabar menunggu janji Allah digenapi. Sesuatu yang berasal dari Tuhan, diletakkan dengan sangat kuat di dalam hati kita dan ini bukan hanya suatu perasaan maupun emosi. Dengan kita terlatih menggunakan iman, maka kita akan mengerti apakah ini dari Tuhan atau bukan.

Roma 14:23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

Hal ini dituntut kepada orang yang sudah percaya dimana ada tertulis orang benar akan hidup oleh iman. Tidak boleh ada orang yang sudah lahir baru tetapi tidak memfungsikan imannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu taat terhadap firman Allah; gaya hidup maupun pola hidup harus berdasarkan iman, jadi bukan iman dihadirkan untuk memperoleh sesuatu dari Tuhan.

Tuhan memanggil Abraham dari rumahnya dan dari kaum keluarganya, ke tanah perjanjian dan Tuhan menjanjikan keturunan Abraham akan seperti bintang dilangit, tetapi realitanya adalah Sara dan Abraham telah lanjut usia dan sudah sangat tua.

Roma 4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Tidak ada dasar bagi Abraham untuk berharap karena ia sudah mati pucuk demikian juga Sara karena rahimnya sudah tidak dapat melahirkan anak. Namun Abraham berharap dan percaya juga terhadap janji Tuhan. Dalam kondisi seperti ini, mereka masih tetap menunggu janji Tuhan.
Ada saatnya Tuhan menghadapkan kita kepada realita putus asa, untuk membantu kita memindahkan kepercayaan kita hanya kepada Allah. Bagi orang dunia, putus asa adalah jalan buntu karena tidak adalagi pengharapan baginya tetapi bagi orang percaya itu merupakan jalan terbaik untuk ia memperbaiki diri agar tidak menaruh pengharapannya kepada manusia sehingga kita tidak perlu terpuruk ketika berada dalam kondisi seperti ini. Apapun realita hidup yang sedang kita hadapi, jangan pernah menaruh pengharapan kita kepada manusia.

Roma 4:18-19 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 19Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.

Ketaatan adalah pergumulan yang tak terhingga. Kita dibentuk dan diproses dengan ketaatan. Iman Abraham pun tidak selalu aman dalam segala bentuk realitas. Setelah menanti akan janji Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan janji-Nya, lalu Hagar hamba perempuan Sara tampil menjadi suatu realita dalam hidup Abraham dan mengalahkan imannya yang teguh sehingga menghadirkan masalah baru hingga turun-temurun bahkan sampai hari ini. Abraham lalu menyadari bahwa bukan itu yang Allah maksudkan. Sekalipun iman sudah diikat dengan janji Tuhan tetapi masih butuh waktu untuk penggenapannya.

Ibrani 6:15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

Kita tahu bahwa dalam masa penantian akan penggenapan janji Tuhan, ketaatan kita diuji. Ketaatan tetap ada dalam masa menanti janji Allah digenapi. Seperti seorang petani yang menabur hari ini tidak akan menuai hasil esok harinya, tetapi menanti saatnya berbuah hingga panen.

Galatia 6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Yakobus 5:7 karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.

Jika setelah sekian lama anda belum menikmati janji Tuhan digenapi maka bersabarlah. Karena di masa penantian, ada banyak pelajaran berharga dari Tuhan sampai penggenapan terjadi.
TAKE THE BLAME

Ada toko bunga di Inggris yang menyediakan layanan “penyelamatan hubungan” saat Valentine lalu. Maksudnya, orang-orang yang lupa mengirim bunga Valentine pada pasangan atau kekasihnya, dapat memesan bunga di toko tersebut hari berikutnya, lalu toko bunga tersebut menyertakan sebuah surat permohonan maaf bahwa bunga terlambat dikirim karena pengantar bunga digigit anjing, “Jadi, jangan salahkan pasangan Anda. Itu bukan salah mereka.” Toko bunga yang cerdas, dapat melihat kesempatan dan kenyataan bahwa banyak orang butuh orang lain untuk dipersalahkan!

Bukankah kita sering demikian? Ketika kita keliru membuat laporan, kita menyalahkan atasan yang memberi terlalu banyak pekerjaan. Ketika masakan kita gosong, kita menyalahkan anak-anak yang ribut. Ketika kita terpeleset kulit pisang di garasi, kita menyalahkan tetangga yang mendadak menyapa, bukannya mengambil tanggung jawab menyapu garasi kita. Semua bisa dipersalahkan, dari anak, tetangga, hingga Tuhan. Mempersalahkan adalah membuat orang lain bertanggung jawab untuk kesalahan atau hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita.

Mengapa kita mempersalahkan orang lain? Karena hal itu menyelamatkan harga diri kita, tidak perlu merasa diri buruk dan tidak perlu mengakui kelemahan kita. Selain itu, kita ingin menang dalam konflik. Tetapi justru orang-orang yang sering mempersalahkan orang lain tidak punya kegigihan untuk berjuang. Ketika kita membuat orang lain bertanggung jawab atas kesalahan kita, berarti kita menyerahkan kuasa padanya, sehingga kita merasa tidak mampu melakukan perbaikan dan perubahan yang dibutuhkan. Jadi kita kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertumbuh. Belum lagi hubungan menjadi retak, dan kehilangan kepercayaan. Mari berhenti menyalahkan orang lain, mulai mengambil tanggung jawab. (Esther Idayanti)

HIDUPMU ADALAH HASIL DARI PERBUATANMU. TIDAK ADA YANG BISA DIPERSALAHKAN KECUALI DIRI ANDA SENDIRI. (Joseph Campbell)

By : Pdt. R.F Martino