This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MENGIKAT IMAN DENGAN JANJI ALLAH

Kejadian 22:2-6 2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. 4 Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5 karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” 6 Jadi tinggallah Ishak di Gerar.

Kejadian 26:1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. — Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.

Apa yang akan kita pelajari sangat penting untuk dipahami. Dalam menjalani hidup sebagai orang percaya, tidak banyak yang memahami bagaimana hidup oleh iman. Setiap orang yang sudah lahir baru sudah ditetapkan untuk hidup oleh iman. Tetapi ketika dia lahir baru dia lupa bahwa masih ada jalan panjang ke depan yang akan penuh dengan realitas pergumulan. Begitu semua realitas itu diijinkan Tuhan untuk hadir, maka diapun bingung, karena sangkanya hidupnya akan mulus. Akhirnya ia menjadi kecewa, tawar hati, menjadi lemah dan akhirya menjauh dari Tuhan

Ketika masih lahir baru diperlakukan dengan segala macam kelembutan, dan tidak ada kata tidak untuknya.
Inilah yang kemudian menjadi masalah kedepannya. Sehingga gereja tidak punya orang-orang yang teguh, kokoh, kuat dan tidak tergoncangkan. Ingatlah semua masalah yang akan terjadi kedepan ini ukan hanya masalah finasial, masalah kehidupan sehari, dll. Tetapi hadirnya berbagai ajaran-ajaran sesat yang kita tidak pernah memahami.

Itu sebabnya kita harus memahami bahwa belajar hidup oleh iman itu dilakukan sampai mati (seumur hidup). Sepanjang kita hidup di dunia kita harus hidup di dalam iman. Iman bukan hanya sekedar terjawabnya sebuah pergumulan, tetapi iman dipakai untuk menjalani hidup selama kita masih berada di dunia.

Dalam Ibrani 11banyak menjelaskan tentang iman dan pribadi-pribadi yang hidup oleh iman. Semua pahlawan-pahwalan iman yang dijelaskan di Ibrani pasal 11 melakukan KETAATAN tanpa SYARAT. Doa dikabulkan atau tidak dikabulkan tetap berpegang pada Yesus Tuhan

Yang memprihatinkan adalah ketika seseorang baru sampai pada tingkatan bahwa iman hanya sebatas terjawabnya suatu pergumulan itupun masih banyak yang salah dalam bertindak, karena banyak hal yang belum diketahui dan masih bayi rohani.
Kita harus dituntun oleh Tuhan dan dibawa pada pengalaman-pengalaman iman yang berikutnya, sehingga boleh memahami bentuk-bentuk ketaatan pada Tuhan.

SETIAP JANJI ALLAH TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DENGAN KETAATAN. Hal ini tidak dapat terjadi dengan sendirinya

Kejadian 2:5 “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.”

Dimana ada perintah ada disitu ada ketetapan. Allah menetapkan janji-Nya bukan karena Ishak tapi karena Allah sudah berjanji Abrahan dan Abraham sudah mendengar dan memelihara segala perintah, ketetapan dan hukum Allah.

Ada janji Tuhan dan ada kewajiban yang sudah ditetapkan untuk ditaati. Tapi kadangkala hal ini jarang bahkan tidak diajarkan. Jemaat hanya diajar dan dibawa kepada pengalaman mujizat. Teologia mujizat ini bisa membawa orang percaya memiliki iman yang pasif. Oleh sebab itu di gereja ini sangat menekankan program pemuridan, supaya setiap orang memiliki dasar yang kuat.

Ketika kita menerima pesan dan janji Tuhan untuk kita itu tidak akn terjadi dengan sendirinya. Kita sudah yakin tapi tidak ada tindakan untuk melakukan apa yang diperintahkan. Adakalanya belum ada keyakinan, tapi sudah melakukan.

Kejadian 26:6 Jadi tinggallah Ishak di Gerar.

Kata “Jadi” berarti ia yakin percaya akan apa yang menjadi janji Tuhan. Oleh karena itu ia melakukan suatu keputusan iman untuk tetap tinggal di Gerar. Inilah yang namanya memelihara kewajiban. Inilah yang dinamakan juga dengan ketaatan.
Manakah yang lebih mudah: “Yakin” atau “Taat”. Sebenarnya kedua hal ini tidak bisa dipisahkan

Ketaatan tidak dilakukan di dunia akhirat tapi selama kita masih tinggal di dunia, dalam kehidupan sehari-hari sementara kita menghadapi realitas.

Masalahnya adalah bagaimana Ishak berani tinggal dan mentaati firman Tuhan dan tidak kemana-mana, tapi keadaan riil semua yang nampak tidak ada harapan. Semua sumur-sumur sudah tertutup, tanah begitu tandus. Tidak ada harapan untuk melanjutkan kehidupan.

Kejadian 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.

Ishak memulai dengan bekerja. Dia tidak memiliki iman yang konyol. Dia yakin melakukannya karena Tuhan sudah berfirman tentang janji-Nya. Meyakini firman dan melakukan firman harus sama-sama, tidak bisa dialkukan dengan sendiri-sendiri.

Kejadian 26:15 Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah.

Kejadian 26:18-19 18 Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. 19 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya.

Jangan pernah melakukan KETATAAN TANPA IMAN.

Kejadian 26:12-13 12Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13 Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.

Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Orang percaya punya hak atas janji-janji Allah.

CARI JANJI ALLAH! CARI TAHU PETUNJUKANYA BERDASARKAN FIRMAN! Dan LAKUKAN!

Mazmur 126:5-6 5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Sejauhmana kekuatan janji Allah ini?

Ibrani 6:13-17 13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, 14 kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” 15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. 17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,

Kekuatan janji Allah diikat dengan sumpah, pada orang percaya ia harus dapat mengikat imannya dengan janji Allah, maka janjipun akan digenapi

Galatia 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Apa yang Ishak taati, Tuhan genapi maka itulah sebabnya karena ia menabur maka ia menuai, krn ada hukum tabur tuai. Tidak menabur tidak ada apa-apa.

Yang dituai sesuai jenis yang ditabur. Menabur hal-hal rohani menuai hal-hal rohani pula. Menabur hal-hal jasmani akan menuai hal-hal jasmani. Jangan pernah berharap mendapat berkat finasial dengan hanya berdoa saja. Banyak kita jumpai semakin seseoarang rohani, semakin kikir.

II Korintus 9:6-7 6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

By : Pdt. R. F. Martino