This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Orang-Orang yang Mengecewakan

Lukas 14:15-21 15Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.”16Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.17Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.18Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.19Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.20Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.21Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

1 Korintus 10:32-33 Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.33Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.

Baca: Matius 25:14-30 (perumpamaan tentang talenta)

Rasa kecewa tidak selalu disebabkan oleh karena manusia, bisa saja karena situasi kondisi dalam beragam bentuknya dalam kehidupan kita. Adalah tidak benar ketika kita mengecewakan orang lain lalu kita menuntut orang itu untuk tidak kecewa karena firman Tuhan mengatakan “jangan menjadi kecewa” maka yang dapat terjadi kemudian ialah kita akan berulang-ulang melakukan dan mengecewakan orang tersebut. Jangan membuat orang lain kecewa jauh lebih penting dari jangan menjadi kecewa. Hal ini berarti ada “saling tidak mengecewakan”.Kita akan belajar lebih dalam lagi supaya kita tidak menjadi orang-orang yang mengecewakan karena hal ini beresiko merugikan diri sendiri.
Ada 3 kisah dalam perumpamaan di alkitab tentangorang-orang pembuat kecewa:
1.    Perumpamaan tentang undangan pesta perjamuan kawin
2.    Perumpamaan tentang talenta
3.    Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat
Tidak seorangpun dari kita mau mengalami pengalaman seperti yang disebutkan dalam kasus-kasus di atas. Sudah tulus hati mengundang tetapi orang yang diundang tidak datang dengan segala alasan.Begitujuga dengan perumpamaan tentang talenta, berbicara mengenai seorang hamba yang mengecewakan. Tidak seorangpun dari kita yang menginginkan karyawan yang sudah kita berikan tugas, tetapi tidak melaksanakan tugasnya, justru membuat kerusuhan. Ketiga kasus peristiwa diatas adalah himpunan orang-orang yang mengecewakan. Ada kalanya kita hanya bisa mengeluh bagaimana kita kecewa kepada seseorang tanpa pernah menyadari bahwa kita seringkali mengecewakan banyak orang. Orang menganggap kita mengecewakan dia dan dia merasa kecewa. Tetapi diri kita menganggap justru kita yang dikecewakan oleh dia. Oleh karena itu keduanya perlu introspeksi diri untuk menemukan siapa sebenarnya pembuat kecewa dan siapa yang pantas kecewa. (Bukan secara alkitab tetapi secara naluri alamiah terjadi).
Jika kita adalah orang yang bertumbuh di dalam iman kita pasti tahu bagaimana mengantisipasi supaya tidak kecewa karena kita sudah tahu firman Tuhan, tetapi yang seringkali tidak kita sadari atau bahkan dengan sadar dilakukan adalah kita membuat orang lain kecewa. Itu sebabnya firman Tuhan sudah mengingatkan kepada kita supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi yang lain, karena orang pembuat kecewa adalah batu sandungan bagi orang lain. Rasul Paulus mengajarkan “Jika saudaraku menjadi lemah hanya karena aku makan daging maka aku tidak perlu memakan daging supaya saudaraku tidak menadi lemah”. Ia menjaga diri begitu rupa supaya ia tidak mengecewakan. Ia memberikan satu contoh etika kehidupan sebagai orang percaya bagaimana membawa diri dalam kebersamaan satu dengan yang lain, dalam hubungan satu dengan yang lain. Firman Tuhan mengingatkan untuk kita saling mengasihi, kata “saling” berarti bukan hanya sepihak.
Secara psikologis, ketika kita membuat seseorang kecewa maka pantas bagi orang itu menjadi kecewa. Hal itu alamiah, tinggal bagaimana ia memahami Firman apakah ia tetap menjadikan kekecewaan itu menjadi akar pahit kemudian menjadi sesuatu yang merusak dirinya, itu adalah perkara yang lain. Setiap orang berhak kecewa. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk mengerti kita atau untuk tidak kecewa. Secara manusia orang memiliki hak untuk kecewa karena telah dikecewakan. Apakah ia memahami atau tidak Itu adalah urusannya dengan Tuhan tetapi kita tidak bisa memaksakan orang itu untuk mengerti terhadap kita. Jika kita adalah orang yang suka membuat kecewa maka kita harus berubah. Seringkali pergaulan anak-anak Tuhan/umat percaya menganggap jika ia sudah mengecewakan orang lain, maka dapat diselesaikan secara rohani. Kita orang percaya tidak boleh menjadi orang pembuat kecewa. Paulus mengingatkan agar kita berusaha untuk menyenangkan semua orang dalam segala hal kecuali dalam hal prinsip iman, tidak ada orang yang boleh menggugat prinsip iman kita apapun alasannya karena Paulus pun mengajarkan “jika aku berusaha berkenan dihadapan manusia, maka aku bukanlah hamba Allah”. Dalam hubungan satu dengan yang lain, Tuhan menetapkan agar kita punya etika dan aturan untuk tidak mengecewakan orang. Menyenangkan orang bukan berarti kita menyenangkan orang dengan kita menyangkal Tuhan atau dalam bahasa rohani bagaimana caranya kita bisa menjadi berkat, bagaimana cara kita berbicara, bersikap satu dengan yang lain sebagai saudara, sebagai pelayan Tuhan semua ada aturannya.
Setiap kita pasti pernah mendapatkan undangan pesta. Ketika kita diundang, berarti kita diperhitungkan, kita masuk dalam daftar hitungan orang-orang yang layak diundang.Baik undangan dari keluarga, sahabat, pemerintah, perusahaan dan lain sebagainya, diundang berarti diperhitungkan dan ada nilainya. Tetapi ternyata penghargaan yang diberikan kepada orang-orang dalam perumpamaan tersebut, tidak mereka perhitungkan. Ada saja kendala yang mereka sebutkan walaupun disampaikan dengan cara yang sopan. Orang pertamabaru membeli tanah dan akan pergi melihatnya, orang kedua baru saja membeli sapi dan akan mencobanya. Dan orang ketiga berkata bahwa ia baru saja menikah dan karena itu ia tidak dapat pergi. Jadi masing-masing ada alasannya untuk tidak pergi. Jika penghargaan yang diberikan kepada kita tidak kita hargai dalam hidup kita, maka akan tumbuh satu kebiasaan meremehkan semua yang bernilai di dalam kehidupan kita. Jika kita diundang berarti kita dihargai, dihormati dan dipandang layak. Secara logika saja betapa bangganya jika kita diundang. Inilah yang ada dalam diri orang yang suka membuat kecewa. Ia tidak pusing dan ia tidak dapat menghargai dirinya sendiri sehingga penghargaan yang diberikan kepadanya, ia menganggapnya tidak bernilai. Orang seperti ini adalah orang-orang yang sangat mudah menjadi orang pembuat kecewa. Orang-orang pembuat kecewa tidak menghargai hal seperti itu karena dirinya sendiri ia tidak dapat hargai, ia pun tidak punya rasa malu, dimanapun ia tidak akan pusing terhadap orang-orang yang kecewa terhadap dirinya.
Akhirnya tuan yang mendengar laporan anak buahnya sangat murka dan menyuruh anak buahnya untuk memanggil semua orang cacat, orang lumpuh, orang buta untuk datang di pestanya.
Jika kita tidak berhenti menjadi pembuat kecewa, kita tidak akan pernah sampai ke tempat pesta, kita akan terpuruk di tempat di mana kita berada, terpuruk dengan 5 pasang sapi,terpuruk dengan tanah di ladang dan terpuruk dengan pasangan kita. Itu sebabnya kita perlu menyadari baik dalam keluarga, jangan pernah mengecewakan. Ketika kita bekerja padaorang lain atau bekerja di perusahaan/instansi manapun, jangan pernah mengecewakan orang/perusahaan tempat kita bekerja. Ketika berbisnis, janganlah berbisnis dengan mengecewakan orang lain.
Memang kita belum sempurna tetapi prinsip itu harus tertanam di dalam diri kita supaya kita memaksimalkan semua potensi apapun bentuknya yang ada di dalam diri kita supaya tidak mengecewakan. Kepada para hamba Tuhan, menjadi pendeta tidak boleh dijadikan profesi tetapi setiap pendeta harus profesional artinya ia menguasai dengan benar dan menguasai keseluruhan semua hal-hal yang ada hubungannya dengan kependetaannya. Itu sebabnya GPPS mengadakan jenjang Diklat kependetaan mulai dari Pendeta Pembantu (Pdp), Pendeta Muda (Pdm) sampai kepada Pendeta (Pdt), mau menjadi majelis daerah ada sekolah kader Majelis Daerah, mau jadi majelis pusat ada sekolah calon majelis pusat. Semuanya harus di persiapkan. Tidak hanya duduk menikmati jabatan dan lupa akan kepercayaan dan tanggung jawab yang ada di dalamnya.
Mungkin bagi kita, orang cacat lumpuh tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin dia akan masuk ke pesta tidak mungkin dia akan masuk ke dalam hal yang menyenangkan tetapi situasi kondisi dunia ini dengan keadaan yang semakin maju, kita akan terkejut dan bahkan sudah terjadi di negeri ini ada perusahaan yang mengerjakan orang-orang cacat/disabilitas. Sementara orang yang memiliki fisik normal masih kesana kemari membawa map tetapi yang duduk sebagai manajer justru orang disabilitas dan mereka dapat bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan. Beberapa restoran tidak lagi menggunakan pegawai atau karyawan tetapi menggunakan robot. Bahkan ada resepsionis yang melayani tetapi tidak hadir secara fisik melainkan bentuknya adalah hologram. Dengan kemajuan teknologi seperti ini, maka orang-orang pembuat kecewa semuanya akan tersingkir.
Dalam kasus yang lain, bentuk kepercayaan yang diberikan kepada seseorang bentuknya berupa uang. Yang dapat 5 talenta menganggapnya bahwa ini adalah suatu kepercayaan yang luar biasa maka ia segera pergi mengelola lima talenta itu dan mendapatkan hasilnya 100% yaitu lima talenta. Yang mendapat 2 talenta melakukan hal yang sama. Tetapi yang mendapat 1 talenta, pergi dan menguburkan talentanya. Maka yang memperoleh satu talenta dan tidak mengelolanya, mendapat resiko ia pasti dibuang.
Orang pembuat kecewa ciri-cirinya antara lain suka menunda-nunda, tidak segera, tidak responsif, santai, ia lupa bahwa dunia terus berubah, situasi kondisi terus berubah. Jadi apa yang di bisa dikerjakan hari ini kerjakanlah! jangan ditunda karena hari esok ada kuatirnya tersendiri. Berarti ada problem yang harus kita selesaikan besok karena dikatakan masing-masing mendatangkan kuatirnya sendiri secara manusia. Karena seluruh pergerakan hidup kita berada di garis waktu dan tidak pernah terulang kembali. Orang santai dan menunda sudah pasti ia malas. Ia tidak mengelola apa yang dipercayakan kepadanya. Orang yang tidak dapat mengelola dirinya sendiri, tidak dapat mengelola pekerjaannya dan ini akan menghadirkan mental-mental yang bergantung kepada orang lain dan itu mengecewakan.
Kita adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan. Kita sudah ditebus oleh darah Kristus Yesus yang kudus sehingga menjadi berharga dimata Tuhan. Lalu mengapa kita hinakan diri kita dengan menggantungkan hidup kita kepada orang lain padahal masing-masing harus mengelola apa yang ada padanya, masing-masing harus mandiri untuk melakukan apa yang ada padanya dimulai dari perkara yang kecil. Ketika kita setia pada perkara yang kecil atau tanggung jawab yang kecil maka akan diberikan tanggung jawab yang besar. Tetapi jika kita tidak melakukannya bagaimana kita akan diberikan yang lebih besar. Kita hanya sampai kepada jadi pemimpi, tukang mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan. Ciri lainnya adalah selalu ada alasan untuk membela diri, selalu ada alasan untuk dimaklumi, jika tidak diawasi kerja maka tidak kerja betul, jika diawasi maka melebihi orang yang professional. Inilah orang-orang pembuat kecewa. Jika kita selalu menjadi orang pembuat kecewa maka orang tidak akan pernah lagi memakai kita dan kita dibuang tidak masuk daftar lagi.
Dalam perumpamaan hamba yang setia dan hamba yang jahat, hamba-hamba ini sudah diberikan tugas oleh tuannya sebelum ia berangkat. Tetapi ia mulai memukul karyawan-karyawannya dengan kekerasan karena ia merasa bahwa ia adalah tuannya. Ketika kita dipercayakan posisi yang lebih tinggi ketahuilah bahwa itu bukanlah jabatan kehormatan tetapi itu adalah tanggung jawab yang lebih besar. Jika sudah diposisikan di tingkat pimpinan maka hati-hati supaya kita dapat memahami bahwa itu adalah tanggung jawab yang lebih besar dan kepercayaan yang lebih besar. Orang pembuat kecewa akan menyalahgunakan kehormatan yang diberikan kepadanya karena dia hanya memahami bahwa itu adalah kewenangan. Maka yang terjadi adalah penyalahgunaan jabatan. Ia tidak dapat memahami bahwa itu adalah tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Rasul Paulus mengingatkan kepada kita bahwa kita ini bukan hanya orang sembarangan, bukan hanya orang yang diberikan kepercayaan dan penghargaan oleh manusia.
1 Korintus 4:1-2 Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.

Sekalipun kita belum sempurna tetapi berusahalah untuk tidak mengecewakan siapapun supaya kita tidak menjadi batu sandungan sehingga kalimat-kalimat yang kita keluarkan untuk bersaksi, untuk memberitakan Firman, untuk membawa orang kepada Kristus itu bisa masuk di dalam hati yang mendengar karena kita tidak menjadi pembuat kecewa. Sehingga orang menikmati Kristus melalui kehidupan kita.
“Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang,baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun jemaat Allah”.
Jadi di manapun kita berada, dengan kepribadian kita jangan mendatangkan syak bagi orang lain yaitu prasangka, curiga, ganjalan, sandungan dalam hati sebab itu tidak akan pernah membawa berkat Bagi siapapun. Ketika orang menjadi syak berarti ada penolakan secara tidak langsung karena sudah dimulai dengan kecurigaan-kecurigaan sehingga penerimaan itu agak sulit karena penolakan secara tidak langsung sudah terjadi tetapi baru ada di dalam hati.
Paulus berkata: “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal bukan untuk kepentingan diriku tetapi kepentingan orang banyak supaya mereka beroleh selamat”. Ini bukanlah pergaulan mencari muka tetapi apa adanya dengan tulus dilakukan, tidak ada kepentingan-kepentingan pribadi. Di dalam hal rohani atau pelayanan, di dalam hubungan relationship ketika ada kepentingan pribadi maka itu akan menjadi rusak karena ketulusan itu ternoda sedangkan nilai tertinggi dari pada kepercayaan ini adalah kesetiaan.
Kita harus perhatikan hal ini di manapun kita berada, sehingga kita tidak merusak kepercayaan yang Tuhan berikan karena ketika orang menghargai kita, itu karena Tuhan yang sudah bekerja, ketika orang sudah menaruh kepercayaan kepada kita, itu karena Tuhan sudah bekerja dan ketika orang menaruh pengharapan kepada kita untuk sesuatu hal yang dapat kita lakukan di tempat kita bekerja atau di tempat di mana kita saling berhubungan satu dengan yang lain berarti Tuhan yang sudah turut bekerja maka hargai semuanya itu dan berdirilah sebagai orang percaya yang dapat menjadi berkat bagi semua orang sehingga dimanapun kita berada nama Tuhan dipermuliakan.
By : Pdt. R.F. Martino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *